Sabtu, 10 Januari 2015

Whisper of the Hearth : kisah Shizuku, si kutu buku yang suka menulis

Whisper of the Hearth : kisah Shizuku, si kutu buku yang suka menulis

Film ini merupakan film animasi Jepang buatan Gibli Studio tahun 1995. Menceritakan kisah Shizuku Fukushima (tokoh utama) dan Seiji Amasawa. Sesuai dengan judulnya, film ini bergenre film romantis. Lalu, kenapa saya jadikan bahan tulisan di blog? Haik! Shizuku dan Amasawa sama-sama seorang yang cinta buku dan perpustakaan. Lebih dari itu, Shizuku juga suka menulis. Banyak tampilan tentang buku dan perpustakaan di dalamnya. Berikut ceritanya kawan,,,,

Cerita bermula ketika Shizuka menemukan nama Seiji Amasawa dalam kartu buku yang ada di buku yang dipinjamnya dari perpustakaan. Beberapa buku yang dia pinjam, selalu ada nama tersebut. Shizuku pun membayangkan seperti apakah Seiji Amasawa itu. Ia memerikasa buku-buku di perpustakaan, dan tahulah ia bahwa Seiji lebih gila buku daripadanya. Hingga pada suatu hari ia bertemu dengan seorang laki-laki yang memungut buku yang ia tinggalkan di kursi dekat lapangan sekolah. Anak itu tak lain adalah Seiji. Namu, Shizuku mengetahuinya jauh setelah itu, yaitu ketika Seiji memperlihatkan dirinya sebagai pembuat violin di toko barang antik kakeknya.

Seiji menyukai Shizuku. Namun, ia belum memperlihatkan perasaan itu pada Shizuku. Hal ini karena Seiji akan pergi ke luar negeri untuk belajar menjadi pembuat Violin yang handal. Jadi, ia harus meninggalkan Shizuku. Tahu jika Seiji benar-benar mengejar cita-citanya, Shizuku iri berat. Ia mencari keinginan jati dirinya. Dan ia menemukan dirinya bahwa ia ingin menjadi seorang penulis. Ia bertekad bulat, sangat konsisten, hingga nilai di pelajarannya menurun drastis dan membuat ibu Shizuku di panggil ke sekolah.

Ayah Shizuku yang merupakan pustakawan di perpustakaan umum tempat Shizuku seringkali berkunjung dan meminjam melihat kerja keras Shizuku dalam mencari referensi untuk menulis. Mereka sekeluarga bertemu dalam satu meja dan membicarakan tentang Shizuku. Sebagai keluarga, ayah dan ibu Shizuku mengerti dan memberikan kesempatan serta peluang bagi Shizuku untuk mencoba dan memilih masa depannya yaitu menulis novel dan menjadi seorang penulis.

Novel Shizuku berjudul Whisper of the Heart (Bisikan Hati). Novel ini menceritakan tentang Baron (boneka kucing yang berdiri di toko antik milik kakek Seiji). Kisah Baron ini ia tuliskan bersamaan dengan kisah kakek Seiji yang pernah diceritakannya pada Shizuku. Dalam menulis novel tersebut, Shizuku banyak dituntun oleh mimpi-mimpinya selama proses penulisan novel. Setelah novel itu selesai, kakek Seijilah yang menjadi pembaca pertamanya. Shizuku menunggu kakek selesai membca dengan khawatir. Kakek Seiji menyelesaikan dalam satu kali baca, dan mengatakan bahwa karya tersebut sangat bagus. Sebaliknya, Shizuku merasa itu jelek, dan ia harus belajar lagi.

Dengan selesainya novel itu, Shizuku yakin dengan masa depannya sebagai seorang penulis. Ia menyingkirkan rasa irinya tentang Seiji yang mengejar cita-cita menjadi pembuat Violin handal, karena ia juga akan menjadi penulis handal. Sebelum Seiji pergi meninggalkan Jepang, Seiji mengajak Shizuku melihat matahari terbit. Sembari memandang indahnya matahari terbit, Seiji melamar Shizuku. Dan kisah ini pun berakhir bahagia.

^_^        ^_^        ^_^

Yupz,,, menurt saya, film ini recommended untuk di tonton, karena di dalamnya mengulas tentang mengejar mimpi menjadi seorang penulis dengan bekerja dan usaha keras, serta pengorbanan. Menariknya, mereka adalah para pecinta buku yang juga cinta perpustakaan. Saya pribadai, sangat suka film ini :D

Berikut beberapa printscreen dari film Whisper of the Heart.


















Begitu ya,,, jika tertarik, coba cari filmnya, dan selamat menonton,,, :D


Membangun Citra Pustakawan

Membangun Citra Pustakawan

Citra bisa diartikan sebagai gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, ataupun produk. Ada  komponen yang berkaitan erat dengan pustakawan, yaitu pustaka (dalam hal ini adalah sumber informasi yang ada di perpustakaan) dan layanan, perpustakaan, dan pustakawan itu sendiri. Apabila dikaitkan dengan pengertian citra tadi, maka pustakawan dapat dikatakan sebagai pribadi. Perpustakaan sebagai perusahaan/organisasi. Dan pustaka dan layanan sebgai produk.

Bagaimana gambaran pustakawan di mata masyarakat tergantung dari  3 pokok komponen di atas. Namun, komponen pustakawan menjadi tolok dari keseluruhannya. Mengapa? Karena produk dan organisasi berjalan baik atau tidak tergantung dari SDM nya yaitu pustakawan. Bagaimana seorang pustakawan bersikap dan bertingkah laku terhadap masyarakatnya terkait dengan produk dan organisasinya.

Banyak pustakawan yang tidak PD dengan profesinya. Why??? Padahal ini adalah profesi yang menurut saya bergengsi. Seorang dosen saya pernah mengatakan, jika profesi ini ditekuni, pustakawan bisa menjadi profesor ilmu pengetahuan. Percaya diri lah pada diri Anda dan profesi pustakawan. Rekan saya Roro mengatakan menjadi pustakawan itu sangat luar biasa. Lihat di sini untuk membacanya. Melalui kepercayaan diri tersebut, mulailah dengan memanfaatkan media sosial seperti facebook dan twitter untuk bercengkerama dengan masyarakat, dan tunjukkanlah bahwa menjadi pustakawan memang benar-benar LUAR BIASA!!!.

Citra fisik juga perlu diperhatikan. Paradigma lama kita memperlihatkan bahwa banyak orang mencitrakan pustakawan sebagai seorang perempuan/laki-laki tua yang berkacamata tebal, bau buku, jarang tersenyum, dan benci keramaian. Yeah,,, itu dulu,,,. Berubahlah menjadi menarik. Pustakawan kita banyak yang muda-muda. Termasuk saya, hahaha :D . Gak ada salahnya pustakawan mengikuti mode/fashion. Ditambah dengan senyuman ramah yang menjadi penarik pemustaka supaya keranjingan ke perpustakaan dan membaca.

Kesimpulannya,,, mari kita bangun citra kita sebagai pustakawan yang LUAR BIASA. Yang SUPER SEKALI,,, (pinjam kata ya,,,Pak Mario Teguh :D ). Dan katakan dengan bangga I’M LIBRARIAN AND I PROUD OF THIS! ^_^


Salam pustakawan…

Rabu, 07 Januari 2015

Menggapai Kejayaan Islam dengan Perpustakaan Masjid Komarudin



Sejarah mencatat bahwa masa kejayaan dan masa kemunduran islam dipengaruhi oleh perpustakaan. Pada masa kejayaan islam, banyak program-program pengembangan ilmu pengetahuan seperti diskusi, penerjemahan buku-buku ke dalam bahasa Arab, serta eksperimen-eksperimen. Semua hal tersebut didukung dengan adanya perpustakaan yang menyediakan fasilitas tempat serta koleksi yang berisi ilmu pengetahuan. Sehingga dari kegiatan tersebut banyak melahirkan ilmuwan-ilmuwan islam yang hasil penemuannya masih digunakan hingga sekarang. Kejayaan islam mulai memudar ketika perpustakaan terbesar pada zaman tersebut di bakar dan koleksinya di bawa ke negara-negara barat. Islam kehilangan sumber pengetahuan, dan negara barat mulai mengalami zaman keemasan ketika buku-buku itu beralih ke negara tersebut. Maka, jelas sekali disini bahwa perpustakaan mempunyai peran penting dalam membawa zaman ke dalam masa keemasan atau kemunduran.
Di era sekarang ini, perpustakaan kembali mulai digerakkan dari segi keilmuan, teknologi, filosofi, bentuk , jenis dan sekaligus fungsinya. Diantara banyak macam jenis perpustakaan yang ada, perpustakaan Masjid adalah contoh perpustakaan yang masih bergerak dalam ranah keislaman. Pertanyaan yang begitu menggelitik adalah apakah kejayaan islam akan dapat terulang kembali dengan mulai berkembangnya perpustakaan-perpustakaan masjid?Jika pada jaman dahulu itu semua dpat terjadi, kenapa sekarang itu sulit?
Yogyakarta adalah sebuah provinsi kecil di Indonesia yang dikenal sebagai kota pelajar. Kota ini memiliki mayoritas penduduk beragama islam. Kedua hal tersebut, menjadikan Yogyakarta memiliki banyak institusi pendidikan baik itu negeri ataupun swasta yang berdasarkan pada keislaman. Ada Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madarasah Aliyah, Universitas Islam, Pondok Pesantren, Taman Pendidikan Al-Quran, dan Masjid. Semua institusi tersebut menjadi tempat pendidikan. Jika perpustakaan menyatu ke dalam institusi tersebut, dan dimanfaatkan dengan maksimal, intelektual muda muslim akan terlahir dan islam akan berjaya. Sayangnya, Masjid yang merupakan tempat berkumpulnya kaum muslim banyak yang belum memiliki perpustakaan.
Adalah Masjid Komarudin. Berada di Kelurahan Suryodiningratan. Masjid ini adalah satu dari contoh masjid yang memiliki perpustakaan. Cikal bakal masjid ini adalah sebuah Mushola dengan nama al-Ikhsan. Kemudian mulai dibangun dan diberi nama Komarudin. Menurut Truli Santosa, selaku penjaga masjid, Komarudin adalah salah satu nama teman baik Pak Suharto mantan Presiden RI. Masjid ini dibangun dengan sokongan dari keluarga pemilik MAGA Swalayan.
Hal yang menarik dari masjid Komarudin adalah karena masjid ini memiliki perpustakaan. Seperti kisah sejarah pada umumnya, perpustakaan Masjid Komarudin mengalami pasang surut pada masa perkembangannya. Perpustakaan ini mengalami dua fase perkembangan. Fase pertama, terjadi antar 5 sampai 6 tahun yang lalu. Pada fase ini perpustakaan masih sangat jauh dari kata baik. Koleksi buku-bukunya adalah buku lama. Sedikit yang memanfaatkan perpustakaan ini, hingga akhirnya vakum selama beberapa waktu. Namun dalam kevakuman itu, “membuat perpustakaan yang layak” tetap menjadi cita-cita takmir Masjid Komarudin. Fase kedua, adalah fase dimana perpustakaan mulai bernapas kembali. Fase ini terjadi mulai tahun 2012. Bermodalkan rak dan buku-buku yang lama, perpustakaan kembali berdiri, dan selang 4 bulan kemudian, ada bantuan buku dari kelurahan Suryodiningratan. Fase ini berlangsung sampai saat ini. Sekarang, koleksi perpustakaan masjid mulai berkembang, 80% adalah buku-buku baru, 15% buku-buku lama, dan 5% yang lainnya takmir melakukan pembelian buku baru.
Membuat perpustakaan menjadi cita-cita takmir masjid Komarudin. Kesadaran akan membuat perpustakaan ini berawal dari anggota takmir masjid yang sebgaian besar merupakan kaum intelektual. Ada guru, dosen dan yang paling mendukung adalah wakil rektor Unerversitas Negeri Yogyakarta. Dukungan dari mereka sangat berpengaruh dalam sejarah pendirian perpustakaan Masjid Komarudin. Dalam hal ini, jelas sekali bahwa kesadaran akan pendidikan seperti pendirian perpustakaan sangat penting sekali dalam memajukan ilmu pengetahuan.
Pendirian perpustakaan masjid Komarudin tidak terlepas dari peran serta pemuda. Proyek pengembangan perpustakaan diserahkan sepenuhnya kepada RIMASKO (Remaja Islam Masjid Komarudin). Remaja tersebut yang mengatur pembuatan rak, dan bentuk perpustakaan. kaum muda berpengaruh besar dalam kemajuan zaman.
Pada umumnya perpustakaan didirikan untuk memenuhi kebutuhan informasi pengguna. Fungsi perpustakaan seperti ini terdapat pada perpustakaan yang berada di bawah institusi, dan memliki kategori pemustaka yang jelas. Apakah perpustakaan masjid memiliki fungsi yang sama? Pada dasarnya perpustakaan jenis apapun akan memiliki fungsi seperti hal diatas, namun dalam pengaplikasian sesungguhnya terdapat kendala-kendala tertentu yang memungkinkan atau menjadikan fungsi perpustakaan berubah. Hal seperti itulah yang terjadi di perpustakaan Masjid Komarudin. Perpustakaan masjid ini bertujuan untuk memberikan fasilitas ilmu pengetahuan kepada para jamaahnya. Namun, dalam perjalannannya perpustakaan ini kurang berfungsi.
Kendala yang dihadapai oleh perpustakaan masjid Komarudin ada bermcam-macam. Seperti yang dikatakan oleh Truli Susanto selaku sekretaris takmir, kendala tersebut antar lain: Pertama, dari segi pustakawan. Sangat kecil sekali kemungkinan perpustakaan masjid mengangkat seorang pustakawan untuk ditempatkan dalam divisinya. Pada umumnya, yang menjadi pustakawan adalah anggota dari takmir masjid itu sendiri. Anggota takmir tidak selalu ada di masjid, karena sebgaian besar dari mereka adalah pekerja. Hal ini jelas mengakibatkan kosongnya perpustakaan dari kontrol. Kedua, dari segi pemustaka. Pemustaka yang masuk ke perpustakaan biasanya adalah seseorang yang sedang menunggu, atau faktor ketidaksengajaan menemukan perpustakaan di lantai 2. Orang-orang yang datang ke masjid Komarudin biasanya adalah para pekerja yang mampir untuk sholat, yang memiliki sedikit waktu senggang, sehingga perpustakaan menjadi tempat yang “agak” dihindari oleh mereka. Kendala ketiga, ada berita yang menyebutkan bahwa 80% perpustakaan di Yogyakarta itu mati. Kondisi ini membuat takmir masjid berpikir ulang untuk mengembangkan perpustakaan masjid, muncul keraguan apakah perpustakaan akan dapat berjalan atau tidak?
Peran perpustakaan pada masa peradaban islam adalah sebagai pusat belajar, pusat penelitian, pusat penerjemahan, dan pusat penyalinan buku. keempat peran tersebut mengantarkan islam pada zaman keemasannya. Apabila perpustakaan masjid dan perpustakaan yang berbasis islam lainnya bersatu padu untuk melakukan peran tersebut  kembali, akan ada kemungkinan bahwa islam akan mengalami zaman keemasannya yang kedua. Bercikal bakal dari perpustakaan masjid, sedikit demi sedikit akan mengalami kemajuan dan mempengaruhi zaman.
Koleksi perpustakaan masjid Komarudin sangat beragam. Namun, dalam keragaman tersebut, dapat dibagi menjadi 3 kategori besar. Posisi pertama adalah buku-buku agama. Buku ini  paling mendominasi. Jelas sekali bahwa ini adalah perpustakaan masjid yang notabene adalah milik umat muslim, sehingga koleksinya adalah buku-buku yangberkaitan tentang agama islam. Kedua adalahbuku-buku anak. Banyak anak-anak sekitar masjid yang datang untuk TPA dan seringkali ke perpustakaan untuk membaca atau melihat buku-buku bergambar. Dan yang ketiga adalah buku-buku umum, buku selain tentang agama.
Perpustakaan mempunyai jam buka setiap hari mulai pukul 18.00 sampai dengan 21.00. tetapi tidak menutup kemungkinan ketika siang hari untuk buka jam pelayanan. Secara praktikal, jam buka perpustakaan tergantung dari penjaga perpustakaan, apakah ada di tempat atau tidak. Pelayanannya menggunakan sistem terbuka, dengan memperbolehkan siapapun untuk melihat langsung koleksi yang dipunyai oleh perpustakaan. Koleksi perpustakaan hanya dipinjamkan untuk dibaca di tempat. Hanya jamaah yang memiliki kriteria tertentu yang boleh meminjam di bawa pulang, seperti jamaah yang sudah dikenal atau sudah diketahui sifat dan perilakunya.
Kesimpulannya, kemajuan dan kemuduran islam tidak terlepas dari peran perpustakaan. hal ini mendorong untuk membentuk perpustakaan masjid yang akan menjadi cikal bakal perpustakaan besar yang akan mengantarkan islam pada zaman keemasannya yang kedua. Perlu adanya kesadaran masyarakat islam untuk mengubah pemikiran mereka bahwa kemajuan islam tergantung dari penguasaan ilmu pengetahuan. Dan penguasaan tersebut dapat dilakukan dengan adanya peran dan fungsi perpustakaan.

Senin, 22 Desember 2014

AvataR : Kehidupan antara Dua Dunia

AvataR : Kehidupan antara Dua Dunia

AvataR adalah sebuah film yang mengisahkan kehidupan manusia yang bisa hidup di dua dunia. Manusia harus membagi pikirannya kepada tubuh lain yang disebut dengan avatar. Avatar ini dapat berperilaku sebagaimana layaknya manusia dengan diatur oleh sistem saraf yang dihubungkan dengan otak manusia yang menjadi pengendali avatar.  

Ada sebuah penelitian terhadap planet Pandora oleh kelompok penelitian yang dipimpin oleh Dr Grace. Tujuan penelitian ini adalah pencarian mineral planet Pandora yang dapat dijual mahal di bumi. Mineral itu adalah Unobtanium. Tambang Unobtanium ditemukan tepat di bawah pohon Suara, sebuah pohon raksasa tempat berkumpul seluruh suku Omaticaya, bangsa Navi’, penghuni planet Pandora. Penelitian itu didampingi oleh pasukan militer yang dipimpin oleh Kolonel Miles. Misi penelitian ini adalah melakukan pendekatan terhadap suku Omaticaya, mempelajari kehidupannya, sehingga dapat membujuk mereka untuk pindah dari tanah yang di bawahnya terdapat tambang Unobtonium. Untuk itulah Dr Grace menciptakan AvataR, sebuah tubuh yang mirip dengan bangsa Navi’, tinggi-biru-berekor. Tubuh inilah yang digunakan Dr Grace untuk melakukan pendekatan dan belajar kehidupan suku Omaticaya.

Adalah Jack Sully, seorang mantan marinir angkatan laut Amerika yang mengalami kelumpuhan pada kakinya. Ia ikut dalam misi Dr Grace, dengan harapan dapat menggerakkan kedua kakinya kembali, meskipun itu harus menggunakan tubuh avatar. Benar saja, pertama kali mencoba tubuh avatar, Jack langsung bisa adaptasi dengan sempurna. Hingga pada akhirnya Jack terdampar di hutan Pandora, tersesat dan ditolong oleh Neytiri, seorang putri dari kepala suku Omaticaya. Jack mendapatkan restu dari kepala suku untuk belajar kehidupan tentang bangsa Navi’ di bawah panduan Neytiri. Berbulan-bulan belajar dengan Neytiri, hingga Jack sempurna dalam penguasaan ketrampiran suku Omaticaya, serta sukses merangkai hatinya untuk Neytiri.

Ternyata terjadi perselisihan antara Dr Grace dan Kolonel Miles. Dr Grace ingin suku Omaticaya berpindah tanpa adanya kekerasan, dan memang harus memakan waktu yang relatif lama. Namun, Kolonel Miles tidak sabar hingga ia ingin menyerang dengan kekerasan. Kolonel Miles mengambil alih posisi kepemimpinan. Dr Grace yang terluka karena perselisihan tersebut dilarikan ke Pandora untuk meminta pertolongan pada Eywa, dewi sesembahan bangsa Navi’. Namun akhirnya Dr Grace harus menghembuskan nafas terakhirnya. Tinggallah Jack yang mampu melindungi Pandora. Ia mengumpulkan seluruh suku yang ada di Pandora untuk melawan Kolonel Miles dan pasukannya. Peperangan berlangsung tidak seimbang. Pasukan kolonel menggunakan senjata api, bom dan pesawat. Pasukan Pandora menggunakan panah dan burung. Dan kemenangan pun ada di tangan Pandora, dengan bantuan dari seluruh hutan Pandora, para satwa yang perkasa.

Jack dan rakyat Pandora kemudian mengusir para manusia yang membuat kericuhan peperangan tersebut. Dan sebuah akhir yang dipilih Jack, adalah berkumpul dengan teman-temannya di Pandora, dengan tubuh avatarnya. Ya, jack meninggalkan kehidupan manusianya, dan dengan bantuan Eywa, ia benar-benar telah berubah menjadi bangsa Navi’ dan bersatu dengan Pandora.

^_^        ^_^        ^_^        ^_^        ^_^

Kehidupan jack ada di antara dua dunia, dunia manusia dan planet Pandora. Sama seperti kehidupan kita saat ini, dunia nyata dan dunia maya. Di Pandora, jack memiliki kehidupan yang jauh berbeda dengan kehidupannya sebagai manusia. Ia memiliki adat kebiasaan, teman, cara melindungi diri, bahasa, dan tentu masyarakat yang berbeda. Di dunia kita saat ini, dalam dunia maya yang tersambung dalam jaringan internet, kita para pengguna internet memiliki jiwa-jiwa yang lain dalam dunia maya itu. Terserah bagaimana kita akan menciptakan avatar kita di dunia maya. Kita dapat membuat avatar yang mirip dengan kita, tapi bisa juga dengan kepribadian yang sangat jauh berbeda. Di dunia maya, tidak ada kita lagi. Yang ada hanyalah avatar diri kita yang dikenal di masyarakat virtual.

Seperti Jack yang berusaha keras beradaptasi dengan dunia barunya, kita juga harus bekerja keras beradaptasi dengan dunia maya. Karena banyak para manusia yang telah membagikan avatarnya masing-masing, hingga kehidupan di dunia nyata tidaklah cukup untuk bergaul lebih luas. Maka sangat perlulah kita memasuki, beradaptasi, dan bermasyarakat dengan baik bersama dengan para avatar-avatar yang lain di dunia maya. Karena dunia maya juga punya peraturan dan etika yang harus diperhatikan. Salam AvataR,,,


Jumat, 28 November 2014

Kritikan ≠ Hinaan



Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) tahun 2008 keberadaannya kini banyak mengundang pertanyaan. Pasalnya, UU ini bukannya melindungi seseorang tetapi justru memanen “korban”. Sudah banyak korban UU ITE yang terjerat hukum. Hal ini dapat dilihat dari semenjak kasusnya Prita Mulyasari sampai dengan kasus Ervani Emy Handayani.  Saya akan sedikit mengulas tentang kasus Ervani. Saya orang yang berdomisili di Bantul, jadi merasa sedikit gelisah ketika ada warga Bantul yang ikut terkena jerat hukum UU ITE ini. 

Harian Kedaulatan rakyat yang terbit Jumat Legi, 28 November 2014 kemarin menampilkan gambar utama yang menarik. Apakah itu? Sebuah foto yang memperlihatkan Ervani (korban) dan Diah Sarastuty (pelapor) saling berjabat tangan dan memaafkan. Ada sedikit senyuman dari keduanya. Nah jika berakhir kekeluargaan seperti itu, bukankah itu adalah sebuah akhir yang indah?

Pasal yang sering menjerat korban dalam UU ITE adalah pasal yang berbicara tentang pencemaran nama baik. Berbicara tentang pencemaran nama baik, sebenarnya pencemaran nama baik yang seperti apakah itu yang tergolong dalam jeratan UU ITE ini? Dari banyak kasus yang sudah terjadi ada bias makna antara kritikan dengan hinaan. 

Melihat dari pengkritik atau pengepost status. Kata-kata kritikan memang akan sangat terasa pedas jika tidak ditata sedemikian sehingga pembaca nyaman membacanya. Inilah yang menyebabkan kritikan tersebut terkesan menjadi hinaan ketika di baca. Kondisi si pengkritik juga memungkinkan ikut ambil bagian. Apabila kritikan tersebut ditulis/dipost ketika pengkritik sedang dalam keadaan emosi, maka emosi itu pun dapat merasuk dalam tulisan tersebut. OK bahwa kita harus mengkritisi suatu hal, tetapi dalam mengkritisi juga harus memperhatikan aspek-aspek  tertentu. 

Melihat dari si penerima kritikan. Seharusnya, penerima ini merasa bersyukur karena dengan adanya pengkritik ia menjadi lebih tahu bahwa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. (Ada pepatah yang mengatakan bahwa untuk mengetahui kelemahanmu, kamu harus lebih mempercayai musuhmu daripada temanmu). Ketika ia membaca kritikan, sebaiknya ia memposisikan dirinya separuh sebagai si pengkritik dengan berbagai emosi yang dialaminya, dan sebagai dirinya penerima kritik yang bijaksana. 

Korban yangberjatuhan akan terhindari dengan perasaan saling mengerti satu sama lain. Selain itu juga perlu adanya norma, dan sopan santun dalam bergaul di masyarakat virtual. Peraturan perlu dibuat untuk meluruskan, bukan untuk dilanggar. Peraturan tidak tertulis juga mesti dijunjung tinggi. Orang Jawa bilang tentang unggah-ungguh yang diperlukan dalam bermasyarakat, tak terkecuali dalam masyarakat virtual.

Saya bersyukur pada Kasus Ervani mengenal perdamaian  (baca : saling memaafkan). Meski perdamaian tersebut dicapai dengan usaha melawan diri sendiri yang berego tinggi. Saya salut dengan kedua belah pihak yang mampu memutuskan untuk saling berdamai dan memaafkan. Dalam proses hukum yang berbelit-belit akan terasa ringan jika ada hubungan yang kekeluargaan. Bukankah hidup itu begitu Indah? Semoga kasus UU ITE ini cepat selesai. Yuppyyy,,, ini hanyalah opini saya, yang cinta akan perdamaian (Saya yakin saya pantas jadi personil Sailor Moon XD ) bagaimana dengan opini kamu? Saya yakin banyak yang berbeda, karena masalah dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Peace,,,,  :D

Succes Story : pustakawan dengan spesialisasi



Apa Spesialisasimu?

Jika kita berbicara profesi seorang dokter, dari pendidikan awal, mereka akan mendapatkan diri mereka sebagai seorang dokter umum. Biasanya kemudian mereka berminat dan melanjutkan mengambil spesialisasi, sehingga muncullah banyak spesialisasi dokter. Dokter spesialis anak, spesialis kandungan, spesialis mata, spesialis THT, dan masih banyak spesialis lainnya.  Dan, karena spesialisasi inilah mereka dengan mudah dapat dikenal dan dicari.

Nah,,, bagaimana dengan profesi kita sebagai pustakawan?

Ok, sebagai awalnya, saya akan sedikit bercerita tentang seorang pustakawan yang menurut saya ia telah sukses dengan spesialisasinya. Simak ya,,, :D

Nama lengkapnya Luckty Giyan Sukarno. Ia seorang pustakawin (pustakawan perempuan) yang bekerja di salah satu sekolah di kota Metro, Lampung. Usianya saat ini menginjak 26 tahun. Mendapatkan gelar dari Jurusan Ilmu Informasi dan perpustakaan dari Universitas Padjajaran Bandung. Sukses mendapatkan gelar, ia kembali ke kampung halaman untuk mengabdikan dirinya di tanah kelahiran.

Luckty, begitu biasa ia dipanggil, aktif sekali membaca buku. Saking sukanya membaca ia mengkampanyekan 1 hari 1 buku. Keaktifannya dalam membaca buku, ia tuangkan dalam tulisan berupa resensi buku. Nah,,, di RESENSI ini-lah Luckty mendapatkan dirinya begitu menyatu. Sejak ia mendapatkan kuliah Penulisan Artikel dan Resensi Buku, Luckty merasakan dirinya sangat bersemangat.
Rasa suka menulis resensi benar-benar ia wujudkan dalam tindakan. Sudah sangat banyak buku yang ia baca dan ia resensi. Resensi buku itu dipost kan ke blognya luckty.wordpress.com.  sebegitu seringnya meresensi, Lucty memiliki gaya tersendiri dalam menuliskan apa yang telah dibacanya dari buku.  Tidak berhenti di situ saja, Lucty kemudian bergabung dengan komunitas BBI (Blog Buku Indonesia).  Dimana komunitas tersebut merupakan komunitas para pecinta buku yang hobi banget menulis resensi. Koleksi buku dari masing-masing anggota beragam, dan bahkan satu judul buku bisa mencapai beberapa judul karena dikoleksi dengan mengambil semua bahasa yang digunakan penerbitan. Luckty menemukan komunitas yang pas dengan dirinya.

Apa bukti kesuksesan Luckty dengan spesialisasinya?
Jika kita tengok ke blognya, akan terlihat banget karena resensinya yang ia post, ia banyak dikirimi buku-buku untuk diresensi. Saya tahu bagaimana rasanya mendapatkan kiriman buku. Bagi pustakawan, mendapatkan buku adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Dengan berbagai banyak kiriman buku, semakin memperkaya koleksi perpustakaan. Dan semakin sering ia membaca dan meresensi.
Apalagi? Blognya Luckty juga sering diajak kerjasama dalam lomba resensi buku.
Apalagi? Luckty pernah mendapatkan mention dari pengarang buku di twitternya ketika ia men-twit resensinya tentang beberapa buku terjemahan. 

Untuk tahu banyak prestasinya, silahkan berkunjung ke sini. Di situ, Luckty sedang diwawancarai tentang berbagai hal mengenai dirinya. Luckty juga banyak berbicara tentang perpustakaan di sini
Nah, terakhir, gak afdol kalau belum berkunjung dan mengenal langsung siapa Luckty Giyan sukarno. Klik https://luckty.wordpress.com/

Sudah membaca? Keren bukan????

Menurut saya, Luckty adalah satu contoh pustakawan yang ia sangat aktif dalam spesialisasinya. Sadar akan mengembangkan bakat dengan mencari komunitas yang akan mendukungnya, juga aktif dalam dunia maya untuk mempromosikan buku serta jatidirinya sebagai seorang pustakawan. Jika membaca blognya, nuansa pembacaan akan terasa bahwa menjadi seorang pustakawan adalah sangat menyenangkan.  Saya pribadi, iri dengan kesuksesan Luckty. Saya juga ingin sukses. Ah tidak. Saya juga akan sukses dengan spesialisasi saya sendiri. 

Nah, temen-temen pustakawan, apa spesialisasimu? Yok kita susul kesuksesan Mbak Luckty,,,

Selasa, 18 November 2014

Tuhan Online (juga)?

Tuhan Online (juga)?

Temen-temen di medsos punya cara-cara masing dalam mengup-date status. Ada yang bercerita pengalaman, share berita, juga kegiatan. Ada yang bernuansa bahagia adapula yang galau atau bahkan menyedihkan. Hmm,,, ya benar, setiap orang memiliki caranya masing-masing, tapi,,,, ada yang sedikit mengusik pikiranku. Tentang status mereka yang berkomunikasi dengan Tuhan. Nah lo,,, (dahi berkerut).

               “Ya Allah,,, jika memang ia baik untukku, dekatkan ya Allah. Tapi jika tidak, buatlah ia menjadi baik                         untukku ya Allah”
                 “Oh my God,,, please help me!!!!”
                 “Ya Allah,,, paringono duit engkang kathah”

Dah. Cukup tiga saja contohnya ya. Sebenarnya banyak sekali, tapi yakin deh para netizen udah sering banget menjumpai kalimat-kalimat sejenis dengan yang dicontohin di atas. Banyak macam dan versinya. Ada yang doa berjamaah (minta peng-amin-an), ada yang nitip doa di Mekah, ada juga yang minta peng-amin-an paksa dengan sedikit ancaman. Aihh,,, cobalah tengok dinding medsos,,,

Bagus banget aktifitas keagamaan seperti doa akhirnya bisa masuk internet juga. Kereen,,, dan salut buat pencetus ide pertama kali ber-religi ria di dunia maya. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan jaringan internet ini, mulai dari ngeblog saja kita udah bisa dakwah dan amal jariah. Tapi juga bakal jadi jalan cepat ke neraka kalo mpe salah nulis dan menyesatkan berbagai pihak,,,So, hati-hati sangat diperlukan di sini. Jangan jadikan ajang saling mencela, toh nantinya yang jelek pihak kedua-duanya kan,,,,

Ok. Kembali ke topik. Tentang status yang berkomunikasi dengan Tuhan. Ada beberapa tanda tanya gedhe di otak ketika membaca up-date doa. Tanda tanya itu amat berat sehingga membuat dahi berkerut. Pertama,,, sampai gak sih doa mereka yang notabene status medsos itu ke Tuhan? Iya bener Tuhan itu segala Maha. Lalu,,, gimana cara Tuhan untuk menjawab doa hambaNya itu? Maav, tapi kenapa aku bisa berpikir tentang Tuhan yang bakalan mbales itu doa dengan “status” juga ya? Aih-Aih-Aih,,,,,,, mungkin gak sih?

Aku gak ragu bahwa Tuhan itu mendengar apa doa hambaNya. Cuman, kalo pakai medsos kan sudah berkaitan dengan suatu perangkat. Apa iya Tuhan harus punya perangkat buat jawab status-status itu? Apa Tuhan harus punya server sendiri, dan meminta beberapa malaikat untuk menangani status yang berjubel? Yah,, itu jika. Dan hanya jika. Apa yang terjadi jika Tuhan benar-benar online ya?

Dan,,,, jika benar Tuhan nanti online,,,, bagaimana jika statusmu itu mendapat jawaban (komentar) dari-Nya?
Aih,,,, pasti kamu gak bakalan percaya kalo itu Tuhan…



Berkawan IT untuk Kemajuan

Judul                : Teknologi Informasi dan Fungsi Kepustakawanan Penulis              : Rhoni Rodin Penerbit            : Calpulis ...