Kamis, 27 Agustus 2015

Kepustakawanan-ku, Where R U?




"Ketika yang namanya "Pustakawan" tapi cm bisa klasifikasi dan peminjaman. Dimanakah letak kepustakawanan itu? Yg notabene sebagai jembatan informasi. Informasi apaa saja yg telah diolah? Lalu skill licency kompetensi (bukan kemampuan dasar) apa yg diperoleh selama kuliah? Ijasah saja?" -- | Misbahul Munir | Facebook | 27-8-2015 | --

Nah lho,,,
Bener banget apa yang diomongin teman seangkatanku kuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan ini. Ketika pekerjaan sehari-hari kita yang terlihat hanya seputar klasifikasi dan manajemen perpustakaan, apalagi hal yang lainnya???
Ini status yang menohok untuk jiwa saya yang notabene anak yang dilahirkan untuk kemajuan perpustakaan dan dunia literasi. Sedikit menyimpang, Naruto adalah anak yang diramalkan mampu mengubah masa depan. Dan ramalan itu benar-benar terjadi. Mengapa??? Karena Naruto memiliki prinsip dan tekad yang kuat, meski lingkungan banyak yang tidak mensuportnya. Namun ia mampu mengubah lingkungannya tersebut menjadi suport paling besar. Kalau menurut buku Remaja Revo yang kemarin habis di bahas, Naruto bisa berhasil salah satunya karena ia berhasil berperan seperti katak tuli. Kok katak tuli? (Pingin tahu lebih banyak? baca dulu bukunya yo!). 

Yosh! Kita semua adalah anak yang diramalkan. Harus mampu mengubah masa depan. Salah satunya dengan cara kembali melihat kepada diri tentang apa yang kurang dalam diri sehingga jiwa kepustakawanan memberontak??? Mari kita gali apa kehebatan kita yang lain. Yakin bahwa di dalam diri pustakawan ada jurus-jurus hebat dari raksasa yang belum terbangunkan.

Saya pribadi, akan mencoba untuk terus aktif membaca dan menulis, sehingga pikiran akan terbuka dan mampu membaca keadan sekitar dan kemudian tahu apa yang harus dilakukan lebih lanjut untuk menyalurkan jiwa kepustakawanan. Mencoba untuk share informasi yang relevan untuk komunitas perpustakaan. Ya. Membuat blog ini adalah salah satu hal yang terpikirkan oleh saya.

Terakhir, pada teman-teman pustakawan, khususnya pada saya sendiri, mari bulatkan tekad untuk memajukan dunia pustakawan menjadi dunia yang mampu mengubah keadan bumi yang sudah berbaur dengan berbagai virus. Smeoga kita mampu menjadi antidotnya.

Rabu, 26 Agustus 2015

Dari Rasa Bosan, Sampai dengan Ide Cemerlang


Tidak ada yang istimewa di hari ini. Pekerjaan berjalan sebagaimana mestinya. Kondisi yang biasa-biasa ini membuat timbulnya sedikit kebosanan. Rasa kebosanan kemudian memberikan konsleting ke dalam pikiran. Melihat keadaan, dan mencoba mencari kesalahan, dan kemudian mencari kambing hitam yang tak sengaja muncul di benak.

Dan itulah yang terjadi hari ini.

Permasalahan pertama,,,
Seperti hari-hari biasa, banyak pengunjung (siswa) datang ke perpustakaan. Check in, dan kemudian menghambur ke meja panjang di belakang. 
Kenapa sih mesti pilih tempat di belakang sono?
Memang sih itu disediakan untuk digunakan, tapi wong yang di depan, yang pencahayaannya bagus, dekat dengan buku-buku, banyak dan belum terduduki. Hmmm,, apakah karena terpantau langsung petugas, sehingga banyak yang tidak memilih duduk di situ?

Kondisi yang lelah akan memunculkan pikiran negatif. Dan pasti kemudian menyalahkan pengunjung tentang pilihan tempat duduk. Yoooooishhh,,, hancurkan pikiran negatif, memang di belakang kondisi lebih tenang dan nyaman, jadi banyak yang bisa fokus jika memilih duduk di sana. Toh juga, masih terpantau lewat CCTV. Pikiran jelek satu berhasil terbrantas,, yeah!

Permasalahan kedua yang muncul.
Perasaan, sudah cukup banyak buku baru yang menarik karena memang buku-buku selera remaja, tapi,,,, kenapa masih banyak pengunjung yang check in, tapi tidak menyentuh apalagi membaca atau meminjam buku? Mereka lebih banyak mengeluarkan charger HP, dan kemudian asyik bermain dengan memanfaatkan Wifi. Atau mengeluarkan laptop dan browshing, searching, download lagu ataupun film. Kalau lihat hal seperti ini,,, konsleting semakin menjadi, dan rasanya kepala sudah mendidih sampai keluar uap-uapnya,,, Huaaaaaahhh!!!
Kalau dipikir-pikir wajar juga sih, karena saia sendiri dulu juga melakukan hal yang sama ketika di perpustakaan (haha,,, ketahuan). Wong ya ada wifi, ya dimanfaatkan. Tapi memang tidak bijak jika hanya menyalahkan pengunjung. Masih perlu banyak evaluasi, dimana letak kesalahan pihak perpustakaan sehingga pemandangan yang seperti itu terlihat wajar,,, entah koleksinya, SDMnya, fasilitasnya, ataukah hal lain. Ini menjadi PR untuk perpustakaan. Ada saran??? Pikiran jelek dua berhasil di brantas, dan memunculkan PR evaluasi,, yeah!

Apakah memang benar, siswa sekarang lebih menyukai internet daripada buku? Sudah ada yang meneliti belum ya? Oh iya, bisa nih, sembari mengerjakan tugas perpustakaan, sembari penelitian kecil-kecilan. nah lho,,, malah ada ide kan? 
Oke,, PR selanjutnya, rancangan penelitian yang bisa di terapkan di perpustakaan.

Sekian untuk hari ini, akhirnya, karena bosan, berpikiran negatif, mencoba menetralkan, menulis, dan berakhir dengan ide. CLING! Semoga ide tidak mengendap, tapi segera teraplikasikan.

Mata Ashita,,,

Selasa, 25 Agustus 2015

Remaja Revo


Judul      :  Remaja Revo: tekad pantang menyerah
Penulis   :  Purnadina
Penerbit :  Yogyakarta / Leutika / 2010
Kolasi    :  164 hlm.; 19 cm.
ISBN     :  978-602-8597-27-2


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
 Bukan novel bukan sihir, juga bukan novel sihir, tetapi buku ini mampu membangkitkan gejolak jiwa semangat hanya dengan sekali baca. Yup, Remaja Revo adalah buku dengan genre motivasi yang dikemas remaja banget oleh Purnadina.

Enak, renyah, dalem, menohok, tapi menyenangkan dan me-refreshkan hati dan pikiran. Buku ini cocok untuk para remaja-remaja yang galau dengan masa depan, krisis kepribadian, patah semangat, dan sangat cocok untuk remaja (maupun yang bukan remaja) yang sedang dalam pencarain jati diri.

Buku ini memuat 20 sub bab. Sub bab tersebut saling berantai dari awal hingga akhir. Dari membangunkan raksasa hingga menerima dunia apa adanya. Purnadina mengemas buku dengan sangat detail. Setiap sub bab berisi dengan judul dengan pemilihan kata-katanya sangat menggairahkan, dilanjut dengan kata mutiara / kata motivasi dari orang-orang besar di dunia, kemudian sekelumit uraian nasehat yang terkait erat dengan kata motivasi sebelumnya. Nasehat ini meski sekelumit tapi benar-benar padat akan makna yang teraplikasi dalam kehidupan remaja sehari-hari. Bahkan, Purnadina juga menambahkan kebiasaan-kebiasaan remaja yang seringkali muncul. Setelah sekelumit nasehat, kemudian ditambahkan kisah. Kisah inilah yang sangat mengena. Seolah-olah Purnadina memberikan contoh aplikasi sebenarnya tindakan dalam dunia nyata. Di belakang kisah, tidak lupa selalu ada hikmah di balik kisah. Hikmah ini menerangkan lebih lanjut tentang kisah yang telah dipaparkan. Setelah semua tertuang, kemudian ada komitmen diri untuk melangkah, yang berisi "langkah apa aja yang harus dilakukan!". Jelas dengan paparan semua itu, Purnadina masih menambahkan komik strip yang berasal dari kisah sebelumnya. 

Hmm,,, menarik bukan cara penulisannya? Mulai dari menyuruh melakukan (judul), memberikan kata yang baik (kata mutiara), memberikan nasehat, mencontohkan dengan kisah, memaknai kisah, dan memberitahukan langkah selanjutnya, juga hiburan komik strip. Runtut, dan menjadikan renyah sekali. Kata-kata yang digunakan juga santai sehingga remaja tidak akan lelah membaca buku ini sekali habis.

Remaja Revo ini memberitahukan kepada kita bahwa kita harus membangunkan raksasa yang ada dalam diri pribadi kita. Raksasa ini lah yang sebenarnya adalah bakat terpendam kita. Setelah membangunkannya, kita harus selalu rutin mengasah sehingga semakin tajam dan sempurna. Untuk lebih hebat lagi, kita perlu mencari nasehat yang tepat, dan ingat, meski banyak nasehat yang kita terima, kita harus saring itu semua, karena yang tahu tentang kita adalah kita sendiri. Yes, nasehat paling tepat adalah dari diri sendiri. Selalu menasehati diri, dan jadilah orang yang bermimpi untuk mengepakkan sayap hingga tinggi dan menguasai hal yang berasal dari bakatmu. Jangan hanya mau hidup seperti air mengalir. Ambillah resiko dan gali akan kedalaman kemampuan bakatmu, dan optimislah! Jangan perdulikan apa kata orang yang akan menghancurkanmu, maksimalkan penggunaan waktu, karena waktu adalah hal yang paling berharga, dan dalam waktu-waktu tersebut, bertindaklah dengan penuh cinta, karena cinta akan membawa kesuksesan yang indah. Belajarlah menjadi bijak. Bijak bertindak, berucap, berfikir, merasa, bijak pada diri, orang lain, dan alam. Bertekadlah pantang menyerah, dan jangan pernah menunda apa yang telah kamu rencanakan. Semangat dan yakinlah, maka ketakutan mu akan resiko akan hilang. Fokus pada tujuan, tapi jangan lupa untuk tersenyum dan tertawa pada sesama dan lingkungan sekitarmu, kejarlah masa depan dengan berpijak pada masa lalumu, dan terakhir terimalah apa adanya apa yang terjadi di duniamu.

Yup,, itu adalah ringkasan kecil dari sebuah buku yang hebat. Membaca ringkasan tidak akan membuatmu puas dan paham, So,,, cari bukunya, dan bacalah hingga selesai, lalu bangunkan raksasa yang tengah tidur dalam dirimu!!!

Senin, 24 Agustus 2015

Bahwa Buku Itu Penting, dan Pustakawan Itu Sangat Penting


Ya,,, Harro,,!!! (^_^)
Akhirnya telah sadar dari koma yang sudah cukup lama.

Shift telah kembali mulai bekerja. Dan hari ini saia masuk siang. Yes. 09.00 s/d 16.00. Yes. Pulang dengan tatapan matahari yang teduh dan hangat. Juga hilir mudik pengemudi yang sedikit tidak menentu.
Pada dasarnya saia senang sekali berlaku sistem shift. Ya karena pekerjaan rumah di pagi hari bisa tercover. Hmmm juga tidak banyak menolak siswa yang datang ke perpustakaan. Satu hal lagi, karena di X-banner tertulis "buka sampai jam 16.00" jadi ketika bener-bener sudah di shift, bener-bener bisa pulang jam 4 sore, berasa bukan pengkhianat. Sebenarnya tahun ajaran kemaren sudah berlaku shift, tapi kemudian terjadi penggantian kepala sekolah, dan ada beberapa kebijakan menjadi mandeg, salah satunya sistem kerja shift. Sempet awal bulan juli sampai dengan kemaren tanpa shift, dan ketika melihat X-Banner di depan, kok rasanya jadi pengkhianat ketika pulang jam 14.00. Huhuhuhu,,, dan alhamdulillah sekali, sekarang lega sudah bisa pulang jam 4 sore. Yeay! Jaya Perpustakaan! Jaya Pustakawan! (^_^)

Kok gak nyambung sama judul ya????
Sebenarnya bukan mau ngomongin hal di atas?
Ok, kembali ke judul,,, lets go,,,!

Telepon berdering. Dan Saia sedang meregangkan badan, tarik ulur tangan kaki di balkon perpustakaan setelah sedari siang (kan masuk siang ya,,) duduk mantengin komputer buat input buku sumbangan siswa yang jumlahnya ribuan,,,mata lumayan segar dan kekakuan tubuh mulai sirna,,

Pak T (maav nama dibuat inisial saja) yang menerima telepon tiba-tiba melambaikan tangannya ke arah saia, persis ketika menyerah dalam uji nyali. Dan berlarilah saia menuju telepon.
"Dari mana pak?"
"Ruang 1"
Whatttttsssss!!!!! Itu Ruang kepala sekolah. Belum juga menempelkan gagang telepon, jantung udah menggedor-gedor. Dan dengan agak gugup berlagak santai juga berlagak resmi, saia menjawab pertanyaan telepon. Hmmm,,, pada intinya, ada tamu dari Jakarta, dari Direktorat apa gitu (saya lupa namanya) mau bertanya-tanya tentang perpustakaan. Dan saia harus menjawabnya secara langsung. Mohon untuk menuju ruang 1.

Panik. Belum pernah masuk ruang 1. Bismillah,,, tenang dan pasti bisa! Rasanya benar kayak mau ujian pendadaran.

Singkat cerita, ternyata yang dipanggil bukan hanya saia. Ada dari perwakilan guru (2 orang), perpustakaan (saia sendiri, ehm), dan 3 siswa (dari jurusan berbeda). Pertemuan di adakan di ruang rapat 1. Tamu dari Jakarta ada 3 orang (2 ibu-ibu, dan 1 bapak-bapak). Mereka ingin mengetahui lebih lanjut tentang kurikulum 2013 yang sudah dilaksanakan di SMKN 2 Yogyakarta. 3 orang tersebut di bagi, satu menangani guru, satu menangani perpustakaan, dan satu menangani siswa.

Bagian saia, tentang buku-buku kurtilas yang datang. Apakah sudah sesuai dengan jumlah murid? Apakah sudah sesuai dengan guru? Apakah pengirimannya terlambat? Apakah kurang? bagaimana sistem peminjamannya, pengembaliannya, dan lain-lain-lain-lain sebagaianya. Dan alhamdulillahh,,, lancar jaya tanpa kurang suatu apapun.

Dari sini saia mau menyimpulkan bahwa mengapa perpustakaan masuk dalam keperluan tinjauan ulang. Karena buku-buku itu adalah pedoman dan kerangka untuk siswa dan guru menjalankan sistem pembelajaran. Jika buku-buku mendapat masalah, pembelajaran juga akan bermasalah. Contohnya saja, ketika pengiriman buku kurtilas yang notabene harus sudah digunakan Juli tapi pengirimannya sampai bulan September, maka itu akan menjadi masalah, bagi siswa, guru, dan perpustakaan! Ya, perpustakaan juga andil, karena kemudian proses buku tersebut harus diminta cepat karena keburu mau dipakai. Alhasil, proses dengan cepat, dan kadang kala yang harus cepat itu sedkit meninggalkan ketidakbenaran (maksudnya, mesti ada kekeliruan sedikit. Sedikit aja.) Nah, itulah pentingnya buku. Dan siapa yang memprosesnya, meminjamkannya, dan mengatur bagaimana supaya semuanya terkendali,,,, that is LIBRARIAN! Yo! pustakawan itu sangat penting di sini! Ketika buku belum datang, saia teramat sering mendapatkan  pertanyaan "Mbak, buku kurtilas untuk kelas X/XI/XII sudah ada? sudah siap?" 

Yah,, itulah sedikit cerita tentang buku kurtilas, guru, siswa, peprustakaan, dan pustakawan.
Di panggilnya saia untuk menjawab pertanyaan tamu dari Jakata tadi membuat saia semakin sadar bahwa buku itu penting, dan pustakawan itu sangat penting. Dan saia adalah seorang pustakawan. Maka saia,,,,,,(^_^)

Mata Ashita,,,

Sabtu, 24 Januari 2015

Proud to be a Librarian

^_^          ^_^          ^_^

Tugas kami selanjutnya adalah melakukan riset perpustakaan untuk mendalami latar sejarah Indonesia tahun 1965 dan bagaimana Pemerintah Amerika melihat Indonesia saat itu. Meskipun kali ini kami tidak perlu tumpangan tapi Mas Garuda tetap memaksa untuk mengantar. Tujuan riset kami pertama adalah perpustakaan yang konon paling lengkap sedunia, Library of Congress atau LOC. Perpustakaan yang terletak di belakang Capiton Hill ini didirikan tahun 1800. Hebatnya, koleksi LOC terus tumbuh, tercata lebih dari 100 juta item ada di dalam katalognya, yang terdiri dari puluhan juta,  buku, film, kaset, microfilm, dan bahkan tablet batu yang berasal dari 2000 tahun sebelum masehi.

Kami berjalan melintasi ruangan perpustakaan di Gedung Congress yang berdinding pualam. Aku menengadah mengagumi langit-langit berlekuk dan tiang-tiang kekar bergaya Yunani. Kami sampai di loket peminjaman yang dijaga seorang perempuan kulit hitam dengan rambut keriting ikal dan wajah mirip Janet Jackson.  “Hi, my name is Bonnie. How can I help you, Sir?” sebuah pin besar tersemat di kelopak bajunya bertuliskan I am proud to be a librarian.

Profesor Deutsch pernah bilang bahkan kita bisa menemukan buku-buku tua yang sudah tidak ada di Indonesia. “Buku pelajaran ‘Ini Budi’ saja ada,” katanya. Mana mungkin? Tapi aku mau mencoba memasukkan kata kunci ke dalam katalog digitalnya. Banyak sekali buku tentang CIA dan juga sejarah Indonesia di masa Orde Lama. Di katalog aku juga menemukan Al-Quran terjemahan bahasa Inggris yang pertama dan Didjempoet Mamaknja, novel karya Buya Hamka yang terbit tahun 1962 yang selama ini sulit dicari. Aku ingat, ayah pernah bercerita bahwa novel ini bercerita tentang beberapa kelemahan pelaksanaan adat di Minang.

Ada pula Kamoes Bahasa Minangkabaoe-Bahasa Melajoe-Riaoe, karangan M. T. Sutan Pamuntjak yang diterbitkan di Batavia oleh Balai Pustaka tahun 1935, Majalah Panji Masyarakat edisi lama yang memuat gambar kampungku di Maninjau, serta buku Alam Takambang Jadi Guru karangan A. A. Navis.

Aku serahkan kertas yang berisi daftar buku yang aku cari kepada Bonnie. Beberapa menit kemudian dia datang membawa setumpuk buku-buku perminataanku. Ajaib, buku Hamka yang terbit sebelum aku lahir itu kini terpegang di tanganku. “Kami punya koleksi lengkap hampir semua buku karangan Hamka ini di sini’” Kata Bonnie seakan dia kenal dengan Hamka.

“Ayo Mas, mau pesen buku apa?” tantangku ke Mas Garuda.
“Mereka punya majalah Indonesia lama gak? Kayak Si Kuncung”
“Coba aja.”

Dalam sekejap Bonnie kembali datang dengan sebuah bundel besar. Majalah Si Kuncung dari tahun ’60 sampai ’70. Mas Garuda langsung tergagap-gagap membalik-balik halaman. “Saya jadi ingat dulu sering membacakan cerita-cerita majalah ini untuk Danang.” Katanya dengan suara tercekat.

Sedangkan Dinara bersuka ria mendapatkan buku tahun 1983 yang sudah lama diincarnya, The Making of Tintinoleh Herge.

Aku terbungkuk-bungkuk berterimakasih kepada pustakawan ini. Dia tertawa ringan sambil bilang, “It is always nice to match a book with a person.” Senangnya menjodohkan buku dengan orang. Tidak ada yang lebih penting daripada riset yang baik untuk wawancara dan menulis. Dan tidak ada riset yang baik kalau tidak ada tenaga pustakawan yang berdedikasi.

Dengan agak narsis, aku iseng mengetik namaku sendiri di katalog elektroniknya. “Dinara, lihat ini!” teriakku menunjuk layar komputer yang berkedip-kedip. Bangga juga rasanya melihat namaku, dan juga Dinara, muncul sebagai tim penulis beberapa laporan investigasi yang diterbitkan oleh majalah Derap. Ternya kami punya potongan juga untuk masuk dalam katalog koleksi perpustakaan yang luar biasa ini.

^_^          ^_^          ^_^

Novel                    : Rantau 1 Muara
Penulis                 : Ahmad Fuadi
Penerbit               : Gramedia

Halaman              : 284-286 

Minggu, 18 Januari 2015

Tenaga Perpus Desa akan Dikuliahkan Gratis

Daily  --  Tribun Jogja
Edisi   --  Senin, 19 januari 2015
Hlm    --  15 : Jogja Life
Judul   --  Tenaga Perpus Desa Akan Dikuliahkan Gratis



Kabar bahagia untuk para relawan pustaka di desa-desa. Bersorak gembiralah para pecinta buku di seluruh polosok kampung di Yogayakarta. Hip-hip,,, hoorayyyy!

Tahukah kalian? BPAD DIY menyediakan 3,2 milyar untuk pembangunan perpustakaan baru di 86 desa tahun 2015 ini!
Tahukah kalian? Untuk relawan pustaka di setiap perpustakaan desa akan dikuliahkan gratis!
Tahukah Kalian? Selain kuliah gratis, lulus nanti langsung ditempatkan di perpustakaan desa!
Tahukah kalian? Gaji yang direncanakan senilai UMK!

Woa,,,, siapa yang tidak mau? dapat ilmu, dapat pahala, dapat ilmu gratis lagi di perpus. Yook persiapkan diri buat menghadapi program BPAD ini. ^_^

Yogyakarta sedang mengembangkan perpustakaan digital. Koleksinya beragam, mulai dari naskah kuno kraton dan pakualaman, koleksi perpustakaan kirti griya Taman Siswa, dan Jogjasiana. Berkat adanya danais akhirnya naskah-naskah kuno tersebut bisa didigitalkan. Lebih awet, dan lebih mudah diakses, dan tidak merusak koleksi aslinya.


Jumat, 16 Januari 2015

Pernah Bercita-cita Jadi Pustakawan

Daily  --  Tribun Jogja
Edisi  --  Sabtu, 17 Januari 2015
Hlm   --  8 : Celeb Life Style
Judul  --  Pernah Bercita-cita Jadi Pustakawan


"Saya sangat gemar membaca buku. Entah kenapa saya akhirnya terjun ke dunia akting. mungkin karena saya bisa merealisasikan karakter yang saya baca melalui berakting"

JULIANNE MOORE. Seorang aktris pemenang Golden Globe. Tiga nominasi Oscar dan tiga piala Golden Globes menjadi bukti mahirnya Julianne dalam berakting. Selain itu, ia juga dinominasikan sebagai aktris terbaik untuk film komedi dan musikal. Sangat jarang aktris mendapatkan nominasi ganda pada kategori terbaik. Tampaknya, memang Julianne patut diacungi 4 jempol. :D

Seperti apa yang diungkapkannya di atas, bahwa Julianne sangat gemar membaca buku. Dan seperti yang dikutip dari Tribun, bahwa ia bercita-cita menjadi seorang pustakawati. Namun, apa yang terjadi? Justru ia menjadi aktris handal yang dapat berdiri di hamparan karpet merah. Julianne mengira hobinya membaca buku akan mengantarkan ia kepada profesi pustakawan, yang tentu sangat ia idam-idamkan. Saya sangat tahu bagaimana rasanya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan hobi. Yap,, pekerjaan akan terasa menyenangkan, dan hidup terasa sangat ternikmati. :D Bagaimana dengan kalian?

Julianne tidak mengira, ternyata hobinya membaca buku justru menggiringnya menjadi seorang aktris. Namun, ia menyadari bahwa kemungkinan besar, ia dapat menjadi aktris karena ia mampu merealisasikan karakter tokoh yang ada dalam naskah-naskah filmnya. Saya berasumsi bahwa kemampuan Julianne dalam merealisasikan karakter tersebut secara alami telah terpupuk sedikit demi sedikit mulai dari ia pertama kali membaca sampai dengan entah berapa bacaan yang telah dibacanya. Membaca membuat kita berimajinasi bebas tentang bacaan kita, meski terarah pada plot yang sudah dibuat oleh penulis, namun kita bebas menggambarkannya seperti apapun itu. Julianne Moore, saya rasa kemungkinan ia telah belajar dengan sangat baik melalui kemampuan membaca dan berimajinasinya. Yah,,  terbukti kan, bahwa membaca tak hanya sekedar mengisi waktu luang, tapi juga mengantarkan seseorang pada kesuksesan. Profesi apapun itu, butuh MEMBACA. Setuju bukan?

Ngomong-ngomong tentang kemampuan membaca seseorang, saya kok jadi teringat satu buku. Judulnya Libri di Luca. Buku itu bercerita tentang kemampuan-kemampuan yang terkait dengan membaca. Penasaran? hahaha. Memang dibuat penasara kok. Ok, lain kali saya pasti akan menuliskan tentang buku itu. Untuk sekarang ini,,, satu kata yang bisa saya suarakan. LETTO!

(Aih aih,,, bilang "Letto!" kok saya jadi teringat satu buku lagi. Judulnya "Bacalah!") ^_^

Berkawan IT untuk Kemajuan

Judul                : Teknologi Informasi dan Fungsi Kepustakawanan Penulis              : Rhoni Rodin Penerbit            : Calpulis ...