Minggu, 28 Februari 2010

Aku Bukan Hantu


--> -->

Aku Bukan Hantu

Oleh : Uswatun Hasanah


Senja kali ini aku dibolehkan pulang, menengok kembali keluarga yang telah lama aku bentuk dan aku bina. Ingin segera bertemu dengan mereka, melampiaskan rindu walo itu tak berguna. Tak tahu aku, kabar kakak dan adik. Apakah mereka juga dibolehkan menengok keluarga atau malah sebaliknya, terkungkung selamanya dalam aktivitas kegiatan rutin yang tak kan pernah bisa lagi ditinggalkan.
Di depan rumah semi mewah ini aku berdiri sekarang. Dengan seulas senyum yang siap aku ulaskan lebih banyak untuk mereka-mereka orang terkasih dalam hidupku. Taukah kau bahwa keluarga adalah hal yang terindah yang pernah kumiliki. Mengalahkan kisah cinta yang begitu mudah tandus diterka sinar mentari yang semakin mendekati keparahan.
Kumasuki rumah pelan-pelan, sehingga tak mengusik mereka yang tengah asik dengan kegiatannya masing-masing. Ruang tamu kulewati setelah memandangi photo berukuran 60 x 30 cm yang terlukiskan di atasnya sosokku dan seorang lelaki paling bijak yang pernah aku kenal. Ingin sekali mengulang keindahan di masa lalu…
Berjalan aku dengan pelan-pelan. Dan seorang anak kecil menabrakku ketika ia berlari dikejar sang kakak. Tertawa ia. Walaupun aku tahu tawa itu bukan untukku, tapi sangat terasa bahwa ia menyambut kedatanganku dengan tawanya. Tahukah bahwa ia berlari menuju apa? Sebuah kitab yang begitu dijaga kesakralannya. Dan sungguh! Suarany begitu indah kudengar ketika sosok kecil itu melantunkannya didepanku.
Tuhan memang Maha Luar Biasa, anak kecil yang bahkan belum genap 6 tahun itu amat pandai menyentuh hati dengan bahasa komunikasi suci. Tanganku tak terasa mengusap air jernih yang muncul dari kelopak mata.

>_< >_< >_<

Aku sibuk! Benar-benar sibuk! Dengan kegiatan ini yang sebenarnya tak pernah sama-sekali aku sukai. Persetan dengan keluarga, persetan dengan orang rumah! Mereka tak kan pernah bisa membuat aku senang, membuat aku bahagia. Bukankah lebih baik aku pergi dari rumah itu? Muak dan muak!
Walopun aku menderita disini, mereka juga tak kan pernah merasakan penderitaanku. Masing-masing tanggung sendiri akibatnya. Itulah slogan keluargaku. Keluargakah itu? Jika sebuah keluarga kenapa tak ada sedikitpun rasa kebersamaan?
Diriku pribadi begitu malu menyebut mereka keluarga. Mengapa aku harus bangga jika mereka tak menyebutku anggota keluarga? Aku jadi membenarkan sikap kakak yang pergi dari rumah dan membina keluarga yang baru yang bahagia dan benar-benar bisa disebut keluarga. Yang masih peduli kepada kami, makhluk yang tak kelihatan ini.
Sayang begitu sayang. Sesal bukan sesal jika tak datang di akhir kisah. Kuucapkan selamat untuk kakakku. Biarlah aku menanggung yang telah aku lakukan. Tak ada gunanya juga aku pulang. Takkan ada kebahagiaan untukku.

>_< >_< >_<

Seorang lelaki tua tengah duduk dikerubungi cucu-cucunya. Terpancar juga keceriaan dari wajahnya. Cucunya tengah menanti-nanti suara dari mulut sang kakek dengan terbengong-bengong penasaran.
“Ayo Yang, cerita lagi… biar kami bisa tidur dengan penasaran. Hehe…” kata salah satu dari anak-anak itu.
Sang kakek tertawa, kemudian terbatuk karena tersedak oleh tawanya sendiri. Bahagia ia melihat cucu-cucunya punya jiwa memperhatikan orang bicara. Jaman sekarang sulit mendapatkan orang yang mau mendengarkan kita.
“uhuk-uhuk.. eyang mau cerita tentang …… Orang baik dan orang buruk”
“yaaaah.. kemaren kan Eyang cerita tentang itu… yang lain dong eyang” jawab anak yang satunya.
“ha…ha..ha.., kakek mulai pikun ternyata. Kalian tambah pintar saja…”
Cucunya tampak senang dipuji begitu.
Kemudian sang kakek bercerita tentang seseorang yang diutus Tuhan untuk memberikan pencerahan kepada orang-orang yang perilakunya buruk. Sembari pikirannya terngiang-ngiang dengan kedua adiknya yang meninggalkan rumah. Adik pertamanya berhasil memperbaiki hidup. Sedang adik keduanya mati sia-sia di tangannya sendiri. Muak dengan keluarga.
Sedang ia –Sang Eyang- bersama istrinya dan anaknya, memilih mengumpulkan generasi penerus keluarga pecah belah. Untuk menciptakan keluarga yang begitu diidamkan banyak orang.

>_< >_< >_<

Adalah keluarga kaya raya. Punya delapan anak bersaudara. 3 anak paling belakang meninggalkan rumah dengan caranya sendiri-sendiri. Sedang yang lainnya masih tertawa-tawa dengan anggur ditangan kirinya, dan wanita ditangan kanannya. Bagaikan hidup akan terus ada pada dirinya. Tak ada tawa anak, karena bagi mereka anak adalah pembuat ribet hidup.

Ngayojokarto,
23FE10_09.51


Sabtu, 13 Februari 2010

Mbah Durmo

-->
Mbah Durmo

Oleh : Uswatun Hasanah


“Mbah Durmo hilang!!!”
“Mbah Durmo hilang!!!”
Tersentak aku dari tidur siang, teriakan-teriakan senada membumbui angin. Begitu riuh dengan orang-orang yang kacau kebingungan. Mondar-mandir disertai ucapan keras. Ya! Terlihat jelas gelagat dan roman muka mereka dari jendela kamarku yang terbuka.
Tanganku bergerak menutupi uapan mulut. Lima detik kemudian berpindah kearah mata untuk mengucek-ucek dan membersihkan kotoran mata. Terduduk aku dengan daya pengumpulan nyawaku yang belum lengkap. Dengan mata yang masih malas terbuka, lembaran-lembaran catatan memori otak mulai kusingkapkan.
Hmmm… Mbah Darmo…
Tak tahu banyak aku tentangnya, baru tiga hari aku berpindah dari kotaku menuju ke sini. Desa H! Ya…. Desa yang amat terkenal kejanggalannya. Kedatanganku hanya bersifat sementara, dan aku tinggal di rumah pak RT.
Oleh Pak RT inilah, aku diceritakan tentang Mbah Durmo. Kata beliau, sejarah Mbah Durmo harus dikenal semua orang. Jadi, setiap pendatang baru, pastilah akan menyantap sajian ini. Tak terkecuali aku.
“Mbah Durmo itu Le…. Hatinya Desa H ini. Beliau itu orang hebat. Tidak ada yang berani menghadapinya. Desa ini bisa terkenal juga berkat Mbah Durmo. Kalau tidak ada Mbah Durmo, desa ini sampah Le…”
“Kalau dulu mbah Durmo itu tidak datang, sudah pasti, barang sehari saja, desa ini pasti sengsara. Semua yang disini benar-benar bersyukur dengan datangnya Mbah Durmo”.
Hmmm.. Mbah Durmo juga pendatang ternyata… setidaknya itu lima tahun yang lalu.
Sekilas kata-kata Pak RT teringatkan. Tapi yang paling teringat olehku, selesai ia bicara mengenai Mbah Durmo… di bibirnya tersungging senyum yang sangat aneh! Mendekati menyeringai…
Bergidik aku…
Tetapi, aku disini hanya sebagai observatory! Tak boleh gentar ketakutan hanya dengan seperti itu.
Sehari setelah kudapatkan cerita, aku mulai jalan-jalan menyusuri jalanan desa. Sekedar penyapaan saja pada masyarakat supaya tidak aneh melihatku. Dari begitu banyaknya penduduk, tidak sedikit yang terlihat aneh. Ketika kusapa, kusenyumi, kuakrabi, mereka begitu menariknya. Penuh sumringah. Tetapi ketika aku mulai meninggalkannya, senyum Pak RT terlihat juga pada roman mereka juga. Hiiii…
Yang paling kuingat, ketika aku berpapasan dengan Mbah Durmo! Asli! Aku tahu karena ada seseorang yang meneriakinya. Dan pada saat itu hanya ada aku dan Mbah Durmo saja di jalan.
Perawakannya kecil pendek, kepala bundar, rambutnya berwarna-warni, ada hitam, coklat, dan putih. Matanya cekung dengan dengan kantung mata yang bergelambir emas. Tulang pipinya tampak diperkenalkan pada umum.
mBah Durmo hanya mengenakan celana kolor tu warna coklat debu, dan tubuhnya bertelanjang dada. Hanya sarung kumal yang tergantung pada bahunya. Seperti tak terurus.
Bibir terlihat komat-kamit selalu, menjadikan kesan tubuhnya selalu ndredek tak karuan. Roman mukanya campur antara rasa cuek dan kebingungan. Aneh sekali.
Itukah mbah Durmo? Yang diagung-agungkan? Itukah? Pertanyaan seperti itu muncul karena saking herannya aku. Benar-benar tidak habis pikir.
Bukan orang pintar, malah terlihat seperti orang ta punya pikiran. Juga bukan seperti orang yang dihormati, malah terkesan dijauhi. Siapakah sebenarnya yang aneh? Mbah Durmo, warga, Pak RT, ataukah aku?
“Huaaaaahhhh” mengggeliat panjang aku sembari menghilangkan apa yang kupikirkan. Turun dari ranjang dan segera pergi mandi. Rumah sepi, disepikan oleh Mbah Durmo.
Malam di desa H diantarkan hiruk pikuk warga. Menyiapkan segala kebutuhan. Akan ada upacara pemanjatan doa di aula lapangan terbuka. Doa untuk Mbah durmo, supaya ia kembali pulang. Supaya desa H tidak hancur katanya.
Sebagai pendatang baru, akupun ikut juga dalam upacara. Di lapangan belum banyak orang yang datang. Dan yang sudah datang, duduk melingkari kotak yang ada di tengah-tengah. Konon kotak itu untuk sang pemimpin doa. Aku duduk di belakang.
“Mungkin Mbah Durmo sudah waktunya.”
“iya-ya… kan sudah ada penggantinya, tapi kenapa malah pergi?”
Sedikit bisik-bisik orang kudengarkan. Aku tak paham dengan maksud mereka. Terakhir yang kudengar hanya bunyi “ssstsss” perintah untuk diam atau mungkin juga jangan keras-keras.
Pemimpin datang dan dimulailah doa. Doa itu seperti dengungan beribu lebah di udara. Membuat pikiranku hilang.
Tiga kali matahari telah berganti, Mbah Durmo belum kelihatan juga batang hidungnya. Tujuh hari pula aku telah tinggal di desa aneh ini. Warga masih juga kelihatan kacau. Mungkinkah ini awal dari kehancuran?
Kusempatkan hari ini untuk kembali melihat-lihat desa. Pak RT banyak terdiam di rumah, membuatku jenuh, tak punya teman untuk berdiskusi. Kususuri jalan-jalan yang dulu pernah kulewati.
Suasana berbeda, berkabutkan duka juga kebingungan. Orang-orang banyak terdiam, aku benar-benar bingung dengan kelakuan mereka. Masih terus aku berjalan, menyapa dan menyapa. Hanya senyum miris yang kudapat.
“Pagi ibu… bagaimana kabar hari ini?” tanyaku pada seorang ibu yang menggendong bayi belepot ingus.
Sang penggendong bayi menggeleng perlahan, lalu keras, dan lebih keras. “Kacau, benar-benar akan kacau!!” katanya kemudian.
“Ada apa Bu?” tanyaku kembali.
Tak aku dapatkan jawaban apapun. Ibu itu langsung saja pergi tanpa menggubrisku. Kutatap ia dari belakang. Selendangnya menari bebas diterbangkan angin, tidak seperti pikirannya yang mungkin kaku dan kacau.
Kulanjutkan perjalananku. Tak kurang dari sepuluh menit, terkagetkan aku oleh orang-orang dibelakang yang berlarian tergesa. Berbarengan dengan itu pula, orang-orang yang di dalam rumah keluar dan ikut menyatu dengan para pelari. Aku bak batu karang saja. Mencoba menahan diri tak bergeming diterpa gelombang orang-orang tergesa itu. Masih kulihat roman muka kebingungan.
“Ada apa?” tanyaku.
Suaraku tertelan oleh tapak-tapak pelari.
“Ada apa???!!” tanyaku lebih keras.
“Mbah Durmo ketemu! Di Lapangan! Kudengar seseorang menjawab pertanyaanku. Entah siapa. Akupun kini ikut arus gelombang tersebut.
Di lapangan orang-orang sudah berkerumun. Aku berhenti dari lariku dan berdiri diam terpaku. Aneh… aku merasa sangat aneh.
Kuterobos kerumunan itu dengan garang sekarang, dan kulihatlah Mbah Durmo. Terengah-engah aku dengan cepatnya, perlahan, lalu pelan. Mata Mbah Durmo tepat ke arah mataku. Tak dapat kuelakkan penglihatanku dari tatapannya. Sayu…
Ketika itu pula, aku mendengar kembali doa. Doakah itu? Atau mantera? Dengungan beribu lebah kembali menghilangkan pikiranku. Sebelum pikiranku hilang sepenuhnya, sempat kulihat Mbah Durmo jatuh tergeletak. Dan sempat lagi kudengarkan seseorang meneriakkan, “Sudah berpindah ke penggantinya… desa kita terselamatkan!”
Dan aku tak ingat lagi apapun!


Ngayojokarto
29DE08_19.02

Sabtu, 13 Desember 2008

ANGIN DAN MATA ANGINNYA

Angin dan Mata Anginnya

Kurasa mungkin dia orang yang paling tak beruntung. Dalam penglihatanku setidaknya. Heran. Biar kuceritakan sesuatu tentangnya.

Namanya Irsa, gadis ini gadis paling aneh di kelasku. Sudah terbukti dan teruji, ini bukan hanya perkataan sementara saja, tapi ini nyata. Aku sudah mengamatinya dari kami kelas satu. Entah apa yang membawa kami hingga tiga tahun ini takdir tak pernah memisahkan. Mungkin di perguruan tinggi nanti, ia akan beda jurusan denganku. Bukan tidak suka melihatnya, tapi kadang bosan melihat orangnya yang super nggak fariatif, nggak pernah berubah.
Ketidaksukaanku ini mungkin karena karakterku yang 180 derajat berbeda dengannya. Mungkin di mata temen-temen yang lain Irsa itu biasa-biasa saja, tapi bagiku dia itu keluar dari biasa. Bukan maksud mengejek, Irsa itu super membingungkan. Tiap hari pasti berubah-ubah, semula diam, kemudian menjadi sok pintar, lalu ke arah kekanak-kanakan, terus bermuram durja, kemudian seperti orang gila, senyuuuuum terus...
Pernah suatu kali ketika aku berkumpul dengan komplotan bermainku, kucoba utarakan uneg-unegku ini pada mereka. Ternyata yang merasakan seperti itu tidak hanya aku, mereka juga. Malah makin antusias saja ketika kami semua membicarakan si Irsa. Maka jadilah waktu itu kami penggosip berbakat. Memang benar-benar aneh anak ini. sebenarnya what happen with this people?
Saking penasarannya, kadang aku berniat mengorek sesuatu tentangnya. Tapi tidak dengan tanya-tanya ke teman sebangku atau bagaimana. Cara seperti itu jadul, jaman dulu banget, lagi pula resikonya juga gedhe, dikira naksir,,, puh!
Ampe saat ini aku mengamatinya dengan slow down banget. Alias pake unsur ketidaksengajaan. Kalo lagi tidak sengaja dapat ya sukur, tapi kok lama gak dapat-dapat,, yaa anggap saja belum waktunya untuk tahu,,

^-^ ^-^ ^-^ ^-^ ^-^

       Hari ini jam pelajaran terakhir diisi oleh guru bimbingan konseling. Ngantuk, lapar, bosan, dan rasa nggak enak yang lain menyeruak datang. Seperti sudah dapat undangan saja, bisa datang bebarengan. Aku sudah benar-benar tidak kuat mendengar suara lembut yang serasa meninabobokkan. Bukan, tepatnya lagu slow enak banget pengantar tidur,, lagu nina bobok kurasa malah nggak kan bisa mengantar tidur. Nyamuk sekarang mah nakal, nggak tidur nggak bangun darah tetap dihisap. Hati-hati anemia ya!
Mungkin karena merasa sudah tidak didengarkan, sang guru diam. Kupikir mungkin akan terus jengkel dan marah, lalu keluar kelas, dengan begitu kami semua bisa pulang lebih awal.
Ups,, tapi ternyata perkiraanku salah. Aku lupa bahwa guru yang di depan itu adalah guru BP, tentu menjadi santapan lezat baginya orang-orang sepertiku. Guru itu kemudian membagikan kertas. Aku masih meletakkan bahu dan kepalaku saat beliau sampai ke mejaku. Beliaupun melihatku dengan senyum mengejek.
“Bu,,,,” kataku.
Sang guru menoleh, lalu kusambut dengan kata “lapaaaar...”
Oalah,, mungkin hatinya bicara begitu, beruntung aku tidak disuruh berdiri di depan kelas gara-gara perkataanku. Ternyata beliau pengertian juga ya.
“Tuliskanlah, sesuatu untuk teman kalian, yang menurut kalian itu pas untuknya. Saran dan kritik tapi tidak boleh menyinggung. Setelah selesai kumpulkan kembali, jangan lupa beri alamat yang dituju.” Kata beliau sembari keluar dari kelas kami.
Aku masih bingung mau menulis apa, bagaimana, buat siapa. Saking lamanya mikir sampai hampir ketiduran. Tapi kemudian mataku terbuka, kenapa tidak terfikir olehku untuk menulis sesuatu untuk Irsa? Lalu kutulislah semua uneg-unegku tentangnya, jika tersampaikan, semoga ia dapat berubah sedikit demi sedikit.

^-^ ^-^ ^-^ ^-^ ^-^

Hari ini aku dapat jatah piket. Aneh, tidak seperti biasanya. Kalau aku mendapat tugas kebersihan aku pasti akan go out paling awal, malas mengerjakan hal seperti itu. Itung-itung memberi tugas tambahan untuk para gadis manja di kelas. Tapi hari ini lain, aku masih tinggal di kelas setelah teman-teman yang lain pulang.
“Kok tidak biasanya Gya, mau bantu kita ya?” tanya Misa membuka pembicaraan.
Aku tersenyum kecut.
“Nggak, cuma lagi survei ajah, gadis jaman skarang, pantes gak sih dijadikan istri, hehehe” kataku berceloteh menakuti mereka.
Sejurus kemudian aku sudah terduduk bak raja di singgasana guru. Perlahan aku buka laci meja besar di depanku. Ada setumpuk kertas kecil-kecil yang tidak teratur penataannya. ngGak enak dilihat, langsung kututup kembali. Kemudian aku mencoba tidur. Baru saja mataku terpejam, langsung dah seperti terkaget, terburu-buru kubuka lagi laci tadi. Dan kulihat, ada beberapa komentar temanku untuk teman yang lain. Mataku tertuju pada selembar kertas yang ditulis oleh Mirna dan ditujukan untuk Irsa.
Segera kurapikan semua kertas itu, kutumpuk dan siap ku baca. Aku hanya mencari kertas yang ditujukan untuk Irsa dan untukku. Wow,, hebat! Ada banyak ternyata yang peduli dengan anak itu, jadi penasaran, tapi yang untukku tidak ada ternyata. Segera kubaca satu persatu.

Dear : Mbak Irsa
Waduh duh em,, bentar ya,, Takutnya nanti malah ane ngoreksi mbak Irsa tapi tidak evaluasi diri sendiri,,
Mbak Irsa tuh, mungkin sekarang gi labil ya, bingung antara teman yang satu dengan teman yang lainnya. Mbak irsa gi bingung pilih kingkungan dan temen gaul. Disatu sisi pingin seperti itu tapi sulit ninggalin yang itu. Yang penting itu, Mbak Irsa yakin dech apa yang ada dalam Mbak Irsa itu berharga. Apa yang dialami Mbak Irsa sekarang, banyak juga kok yang ngalamin. Hanya bagaimana cara kita menyikapinya.

Jangan anggap diri buruk, karena ketika kita berpikir kita buruk, maka kita akan buruk. OK, yakianlah bahwa Mbak Irsa itu terbaik.

Mirna

Hmm,, kira-kira apa yang dimaksudkan Mirna ya. Aku tidak dekat dengan Irsa jadi tidak tahu banyak tentang dia. Wow teman sebangkuku yang nulis, heran...dasar orang aneh. Mungkin karena saking seringnya kuajak dia bicara tentang Irsa.

Untuk : Irsa

Kamu iku aneh yo. Dah guedhe tapi masih kayak bocah. Uduh-uduh,,,gimana to,,, Nanti malam matanya dimeremkan, trus inget-inget apa yang seharian tadi kamu kerjakan. Sebenare umurmu iku dah tua, malah lebih tua dari aku. Tapi kok sikapmu masih suka kayak anak kecil to ya,,
Kamu iku baikna belajar lah jadi orang dewasa,, gaul sama temen-temen biar tambah wawasan. Biar bisa diajarin sama mereka tentang kehidupan yang seharusnya. Yo! Gitu ae,, Bye-bye,,

Sang Pujangga Kampung


Spontan aku langsung tertawa terbahak-bahak. Waduh,, gila nia anak. Gak aneh memang, orangnya saja super medhok ndesonya. Padahal jiwanya juga lum jauh dari kampungnya. Tapi siplah dah bagi-bagi wawasan sama orang lain. Jadi tahu,, pandangan dia ke Irsa seperti itu ternyata.
Kertas selanjutnya.

Dear : Irsa temenkyu yang muanis

Wuuu,, dasar aneh! Baiknya Irsa jadi monyet ato jadi katak aja. Irsa itu harus step by step dalam menghadapi suatu problem. Jangan cepet nangisss,,, wuu dasar cengeng. Kayak siezy gini loh, always ceria, hehehe. Pikirkanlah baik-baik apa yang akan kamu lakukan jangan sampai salah langkah ya!
Siezy yang gak kalah manis dari kamu, hehe

Kertas terakhir yang agak panjang bacaanya.

Teruntuk Irsa
Irsa yang sekarang tuw terlalu terbebani dengan pikiran-pikirannya sendiri. Tidak semua yang kamu pikirin tuw jadi bebanmu sendiri loh. Ada hal-hal yang harusnya dibiarkan ja ngalir,, dengan gitu, kamu bakal sampai ke titik “diri kamu sendiri” tanpa harus di buat-buat, tanpa rus dipaksain, aku rus gini aku rus gitu.
Jangan sering sering pasang muka serius, senyum dunk, senyum. Pikiran yang dah numpuk-numpuk kenapa tak coba di bagi sama temen yang Irsa percaya. Gak harus semuanya.
Irsa dah tau siapa diri Irsa belum? Kalo belum biar kukasih tau. Irsa adalah Irsa. Irsa adalah putri dari ayah dan ibuna Irsa yang nikah tahun?? (brapa Sa? Aku gak tahu) Ups gak penting. Dah ya,,
Temenmu : Ririn

Oh yang ini dari Ririn, yaya dia sih calon psikolog, percaya dah apa yang dikatakannya. Wah ternyata banyak juga yang peduli, tidak menyangka, ternyata anak-anak di kelasku punya jiwa persahabatan yang tinggi. Hmmm,,,

^-^ ^-^ ^-^ ^-^ ^-^

Bel istirahat berbunyi. Aku menunggu Irsa keluar kelas. Hmm,, tak lama ia keluar juga, tidak tahu mau ke kantin atau ke toilet,, itu bukan urusanku, yang penting ia keluar.
Segera kumasukkan sesuatu ke tasnya. Sebuah amplop yang berisi komentar teman-teman. Tapi tidak kumasukkan kertas kecil dariku. Kurasa tulisan teman-teman sudah cukup mewakili apa yang kutulis. Aku hanya berharap semoga ia menjadi yang terbaik untuk dirinya sendiri dan masa depannya.
Amplop bagian depan kutulis “Teruntuk Irsa, di jalan persimpangan menuju pintu masuk masa depan”. Dan di belakangnya “mata angin”.
Dalam hati aku bersorak,, YEAH!! Setidaknya aku sudah melakukan sesuatu untuk orang lain yang belum pernah kulakukan sebelumnya.

^-^ ^-^ ^-^ ^-^ ^-^

Surat itu sudah terlupakan. Entah sudah dibaca ataukah belum, entah hilang ataukah disimpan. Aku sendiri seperti amnesia. Hingga datanglah suatu hari dimana ketidakbiasaanku datang.
Iseng-iseng kembali kubuka laci meja guru tempat aku menemukan kertas-kertas kecil itu. Tidak menyangka sama sekali, onggokan kertas itu masih terkumpul bak sampah tak pernah dibuang. Iseng-iseng juga aku mengumpulkan dan merapikannya. Tanganku berhenti ketika aku menemukan sebuah amplop yang masih bersih. Dan di bagian depannya tertulis “Kepada mata angin”.
Hatiku berdebar penasaran, segera kubuka. Kumpulan kertas kecil sama seperti saat aku memberikannya pada Irsa. Tapi,, ada satu yang berbeda, kertas-kertas itu ditujukan padaku! Dan ada satu kertas yang ditulis Irsa.

Kepada : Mata angin

Terima kasih,,, aku tidak begitu tahu tentangmu, tidak begitu kenal siapa dirimu, aneh memang, padahal tiga tahun ini kita ada pada ruangan yang sama. Kita seperti ada pada jalan yang sama, jalan persimpangan yang belum kita tentukan mau pilih yang mana. Jika memang engkaulah mata angin maka arahkanlah angin-angin yang lain menuju masa depan mereka masing-masing. Terimakasih,, mari kita jalani kehidupan ini dengan penuh keyakinan, saling bantu dan saling berbagi,,
Angin


Ngayojokarto 26JL08_18.19

SEBUAH KEBODOHAN

SEBUAH KEBODOHAN

 

Aku berjalan pulang dengan lunglainya. Kakiku teras berat untuk melangkah, alas kakiku seperti terbuat dari baja yang dipakai untuk maju perang. Sebuah buntalan di punggungku pun terasa lebih berat dari biasanya, sehingga aku tak mampu untuk berdiri tegap menatap lurus ke arah depan. Bahkan aku seperti orang bongkok yang lemah tak berdaya, menatap ke bawah ke tanah coklat yang secoklat kulitku. Mungkin juga itu sebuah isyarat untukku, pada diriku yang seperti bunglon, yang selalu berubah, tanpa punya pendirian yang tegas, tanpa mempunyai sebuah prinsip hidup yang pasti.
Pikiranku melayang, membayang mengikutiku di belakang. Terserap dalam bayang hitamku yang tercipta karena cahaya. Seharusnya pikiran dan hatiku menyatu dalam jiwa dan melahirkan sesuatu yang berharga bagiku, dan untuk orang lain. Tapi tidak! Ia terserap dalam bayang-bayang hitam yang kadang-kadang dekat, menjauh, dan bahkan hilang dariku. Seandainya cahaya itu berbaik hati padaku,,, sayang ia bukan milikku.
Aku masih tetap berjalan menuju rumah, entah jalan itu lurus ataukah membelok, yang kutahu hanya tanah coklat yang secoklat kulitku. Pintu yang kutuju belum terlihat juga. Ah! Apa aku berjalan selambat siput??
Kumasuki rumah ini, tentu dengan rasa yang lain dari biasanya. Bukan dengan keceriaan sambutan adikku yang meminta oleh-oleh, bukan dengan rasa lelah yang siap kutumpahkan pada televisi di ruang makan, bukan juga rasa kecewa yang siap tercurahkan pada orang terkasihku. Tapi dengan rasa takut, dengan air yang mengumpul di pelupuk. Meski begitu, meski dengan kepala tertunduk, kuulakan senyum seperti biasanya. Dan dari sudut pandang yang amat terbatas, kulihat dan kurasa sambutan yang masih seperti biasanya. Hanya tak ada semangat dalam sambutan itu. Fiuhh...
Aku sadar dimana letak kesalahanku. Yang tidak kutahu tentang diriku, meski aku sadar, aku slalu mengulang hal yang sma. Tidak hanya sekali bahkan, berulang-ulang malah. Dan itu kulakukan dengan mata yang benar-benar terbuka, pikiran yang benar-benar milikku, hanya tidak ada prinsip yang jelas.
Aku membuka pintu kamarku, terlihat masa laluku di kamar ini. ketika aku berusaha, berjuang untuk meraih apa yang kuimpikan, ketika aku menangis tersedu mengharap yang telah hilang akan segera kembali, ketika aku tertawa bersama saudara-saudaraku, setelah sang adik menangis karena perkelahian kami, dan.. ketika kakekku tersenyum sambil serius menghibur dan menasehatiku. Tentu saja dengan kebiasaannya, mengelus-elus telapak kaki. Sedikit sunggingan senyum kecewa terulas pasrah...
Di kasur yang tak lagi empuk ini aku merebahkan diri. Melihat ke langit-langit, ke arah genting yang dihiasi cawang dan sedikit sarang laba-laba. Kejenuhan, kehampaan, dan kekosongan juga ada di langit itu. Kupejamkan mataku, dan kegelapan itu semakin dekat kepadaku. Aku rasakan beban berat di hati, pikiran, masa depan dan cita.
Dalam keadaan seperti ini, aku tak selalu punya pikiran “Ayo! Sekarang kerjakan, untuk memulai dari awal dan menghasilkan yang baru”. Tidak! Yang terbesit hanyalah bayang masa lalu, bayang kebahagiaan yang sekarang berubah total.
Aku masih ingat ketika aku mempunyai konflik hati untuk pertama kalinya. Saat itu aku benar-benar hancur entah seperti apa. Kupikir sudah tidak ada lagi kepingan hati yang bisa kusulam. Hanya rasa sakit dan penyesalan yang tiada guna yang ada. Hanya tangisan yang menghibur. Ketika itulah aku bisa merasakan seorang beliau hadir mencoba menyelami diriku yang tidak stabil. Menasehatiku dengan senyumnya yang khas. Bahkan tertawa! Aku tahu maksudnya, supaya aku mengikutinya tertawa. Saat itulah aku baru benar-benar menyadari apa arti mereka ada untukku. Yang masih kuingat benar beliau pernah bilang seperti ini “Sebesar apapun masalah, sebesar apapun resiko, keluarga akan slalu ada untuk membantu”.
Bersitan saat-saat itu mengundang arus yang deras muncul di atas pipi. Setelah apa yang mereka berikan padaku, apa yang kuberikan pada mereka? Sebuah kekecewaan! Inilah beban beratku. Aku tak bisa penuhi kewajibanku untuk memberikan kebahagiaan dan kebanggaan.

##### ##### #####

Kemarin, ketika aku pulang, adalah hari terakhirku berguru ilmu kebanggaan dunia, ya! ilmu-ilmu yang dipelajari untuk mendapatkan angka pintar dan jenius. Dan hasilnya, sungguh membuatku membelalakkan mata dan berfikir “Sebegitu bodohnyakah aku?”. Terlebih lagi inilah yang membuatku tak berani menatap beliau yang telah sekian tahun banyaknya menyerahkanku di lembaga ini.
‘Kakek, maafkan aku’ itu yang selalu ingin aku ucapkan padanya. Tapi itu tidak mungkin, karena melihatnya aku sudah lemah, merasa bodoh, tak berguna.
Aku hanya memberikan kekecewaan yang teramat sangat. Meski hanya perasaanku yang mengatakan seperti itu. Aku di kembalikan lagi ke rumah ini, rumah yang telah lama kutinggalkan.

##### ##### #####

gelap dan terang sudah kurasakan di rumah ini. aku mencoba menghindari beliau. Sungguh aku merasa tidak pantas. Dalam perasaan yang seperti itu, aku masih melihat beliau berbincang dengan tetangga belakang rumah, ah... masih seperti kakekku yang dulu. Yang menasehatiku dengan mengelus-elus telapak kakinya.
Apakah ini hanya prasangka burukku terhadap beliau? Jika benar, sungguh berdosa diri ini. beliau pernah berkata ‘Ilmu tak diukur dengan nilai’. Beliau juga pernah berkata ‘Bagaimanapun juga kaulah harta berhargaku’. Lalu sebenarnya apa yang kutakutkan? Yang kucemaskan? Yang kurisaukan?
Justru itulah, aku merasakan memberikan beliau sebuah tamparan kekecewaan yang begitu hebat.
Bodohnya aku tak mengerti-mengerti!
Bodohnya aku tak paham-paham.

##### ##### #####

Dengan hati yang masih begitu banyak kegalauan, kericuhan, dan kegelapan yang lain. Aku berusaha mendekati beliau, memberikan pengabdianku, hormatku, setidaknya untuk memperbaiki dan mencoba dari asal kembali. Beliau sedang sibuk menuliskan sesuatu. Aku menghampirinya dan mencoba memancing-mancing pembicaraan.
Tidak lama, suasana mencair sudah. Tak kusadari, seorang kakekku banyak berbicara, bahkan kadang-kadang tertawa lepas menertawai apa yang beliau ceritakan sendiri. Aku hanya tersenyum, ada sedikit kelegaan di ulu hati. Semakin lama aku mendengarkan, sadarlah aku apa yang beliau perbincangkan. Sesekali dua kali kulemparkan pertanyaan, setidaknya untuk mengisyaratkan beliau bahwa cucunya ini nyambung dengan obrolannya.
Yang begitu mengejutkanku, ketika beliau mengatakan kabar gembira ini kepadaku. “Cucunya temannya kakek yang dulu sering main sama kamu, pagi tadi terbang ke luar negeri. Dapat tugas dari negeri”.
Aku tersenyum mendengarnya. Aku hanya dapat mengatakan “Oh ya, benarkah! Hebat ya!”. lalu aku beringsut dan segera berpamit tuk pergi sebentar ke luar rumah.
Jalan setapak di belakang rumah.
Aku berjalan saja menyusurinya. Mungkin itu tadi kabar gembira, tapi bagiku, kakek mengatakan seperti itu sama saja seperti mengatakan “Coba lihat dirimu, kenapa masih di sini?”. Tentu saja artinya sama. Bodoh! Kembali sudah aku merasakan kegetiran. Sama dengan perjalanan waktu aku pulang. Bahkan lebih dari saat itu. Karena aku mendengar dengan telingaku sendiri, bahkan tepat di hadapanku, dan itu adalah kakekku yang begitu ingin aku bahagiakan. Sedang apa yang terjadi padaku? Berjalan lamban tanpa arah pasti. Menyesali apa yang seharusnya tak disesali. Bukan berusaha hidup untuk menjadi yang lain, tapi hanya mengingat masa sinar yang sudah tak kutemui.
Biarlah orang bodoh ini berjalan. Biarlah orang bodoh ini mencari kebodohannya. Biarlah orang bodoh ini mencari apa yang sedang dicarinya. Biarkan!


Ngayojokarto
05JL07-19.55

Berkawan IT untuk Kemajuan

Judul                : Teknologi Informasi dan Fungsi Kepustakawanan Penulis              : Rhoni Rodin Penerbit            : Calpulis ...